Menjaga Amanah yang Terlupa; Ayah, Anak dan Masa Depan Indonesia
06.45Kita sering berbicara tentang anak sebagai masa depan bangsa. Tentang generasi emas, tentang harapan, tentang mimpi besar Indonesia ke depan. Namun, di tengah semua percakapan itu, ada satu amanah yang perlahan terlupa: kehadiran ayah dalam kehidupan anak. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir sebagai sosok yang memberi rasa aman, arah, dan teladan hidup.
Banyak anak hari ini tumbuh dengan fasilitas yang cukup, pendidikan yang baik, bahkan lingkungan yang relatif aman. Namun, tidak sedikit dari mereka yang tumbuh dengan ruang batin yang kosong. Ayah bekerja keras, pulang ke rumah, lalu kelelahan. Anak ada di dekatnya, tetapi jauh secara emosional. Tanpa disadari, relasi yang seharusnya menjadi sumber kekuatan justru menjadi hening.
Fenomena ini dikenal sebagai fatherless. Fatherless bukan hanya tentang ayah yang pergi atau tidak tinggal serumah. Fatherless juga tentang ayah yang hadir, tetapi tidak terlibat. Ayah yang lebih dikenal sebagai pencari nafkah, bukan pendamping tumbuh kembang anak. Dalam konteks Indonesia, kondisi ini cukup mengkhawatirkan. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2025 menunjukkan bahwa sekitar 25 persen anak Indonesia mengalami fatherless dalam berbagai bentuk.
Dalam Islam, anak bukan sekadar tanggung jawab duniawi, tetapi amanah besar dari Allah. Al-Qur’an mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini tidak berbicara tentang seberapa banyak harta yang diberikan kepada anak, tetapi tentang tanggung jawab menjaga mereka secara utuh: iman, akhlak, dan kesehatan jiwanya. Menjaga keluarga berarti menghadirkan bimbingan, perhatian, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Psikologi perkembangan menjelaskan bahwa kehadiran ayah memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian anak. Jacques Lacan, seorang psikoanalis, menyebut peran ayah sebagai The Name of the Father, yaitu fungsi yang membantu anak mengenal batas, aturan, dan realitas sosial. Dengan kata lain, fungsi ayah adalah menyatukan atau mengintegrasikan hastrat dan hukum. Ayah membantu anak belajar bahwa hidup tidak selalu mengikuti keinginannya, tetapi tetap bisa dijalani dengan aman dan bermakna. Tanpa fungsi ini, anak berisiko tumbuh dengan kebingungan identitas dan kesulitan mengelola emosi.
Pandangan ini sejalan dengan nilai Islam yang menempatkan ayah sebagai imam keluarga. Imam bukan berarti paling berkuasa, tetapi paling bertanggung jawab. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Artinya, ayah memikul amanah bukan hanya untuk memberi nafkah, tetapi juga membimbing dan membersamai.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang sehat lebih rentan mengalami masalah emosi, kesulitan belajar, hingga masalah perilaku. David Blankenhorn, seorang peneliti keluarga, dalam bukunya Fatherless America menyebut fatherless sebagai salah satu krisis sosial paling serius di era modern karena dampaknya yang luas dan lintas generasi.
Namun, dampak fatherless tidak hanya terlihat pada perilaku. Ia juga menyentuh sisi spiritual anak. Banyak anak membangun gambaran tentang Tuhan melalui pengalaman awal mereka dengan orang tua, terutama ayah. Ayah yang dingin dan jauh dapat membuat Tuhan terasa jauh. Ayah yang keras tanpa empati dapat membuat Tuhan terasa menakutkan. Sebaliknya, ayah yang hadir dengan kasih dan ketegasan yang adil membantu anak mengenal Tuhan sebagai Maha Penyayang sekaligus Maha Membimbing.
Al-Qur’an menggambarkan harapan orang beriman terhadap keluarganya dalam doa:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menjadi penyejuk mata.”
(QS. Al-Furqan: 74)
Anak yang menjadi penyejuk mata tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari relasi yang hangat, konsisten, dan penuh makna. Dari ayah dan ibu yang mau belajar, hadir, dan memperbaiki diri.
Dalam konteks kebangsaan, keluarga adalah fondasi masyarakat. Nurcholish Madjid, seorang cendekiawan Muslim Indonesia, pernah mengingatkan bahwa krisis moral bangsa sering berakar dari rapuhnya keluarga sebagai unit dasar masyarakat. Ketika keluarga kehilangan nilai dan arah, dampaknya akan terasa di ruang publik: meningkatnya kekerasan, krisis kepercayaan, dan hilangnya empati sosial.
Menjaga amanah sebagai ayah tidak selalu mudah. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan perubahan sosial sering membuat peran ayah terasa berat. Namun, Islam tidak menuntut ayah menjadi sempurna. Ia menuntut ayah untuk hadir dan bertanggung jawab. Kehadiran itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana: mendengarkan cerita anak, meluangkan waktu, memberi batas dengan kasih, dan menjadi teladan dalam sikap sehari-hari.
Menyelamatkan masa depan Indonesia tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau wacana megah. Ia bisa dimulai dari rumah, dari relasi kecil yang sering dianggap sepele. Dari ayah yang kembali menyadari bahwa anak bukan hanya tanggung jawab ibu, dan bukan sekadar proyek masa depan, tetapi amanah hari ini.
Ketika amanah itu dijaga, anak-anak tumbuh lebih kuat—bukan hanya secara fisik dan intelektual, tetapi juga secara emosional dan spiritual. Melalui anak-anak yang tumbuh utuh itulah, masa depan Indonesia perlahan dibangun.
Referensi Singkat
- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Fenomena Fatherless di Indonesia, 2025.
- Lacan, J. Écrits.
- Blankenhorn, D. Fatherless America: Confronting Our Most Urgent Social Problem.
- Al-Qur’an: QS. At-Tahrim: 6; QS. Al-Furqan: 74.

0 comments