Ada peristiwa dalam hidup yang tidak datang sebagai kejutan, namun tetap mengguncang seluruh batin ketika akhirnya benar-benar terjadi. Kematian orang tua adalah salah satunya. Kita tahu sejak lama bahwa usia akan menua, tubuh akan melemah, dan hidup memiliki batas. Kita memahaminya secara logis, bahkan mungkin secara ilmiah. Namun pengetahuan itu tidak serta-merta menjadikan hati siap. Ketika saat itu mendekat, yang tersisa bukan kepastian, melainkan keheningan panjang yang dipenuhi kecemasan dan doa-doa lirih.Mendampingi orang tua yang dirawat di ruang perawatan intensif dalam 8 hari adalah pengalaman yang sunyi sekaligus penuh suara. Sunyi karena percakapan tak lagi berbalas, penuh suara karena mesin-mesin bekerja tanpa henti. Bunyi monitor jantung, alarm saturasi oksigen, dan desis alat bantu napas menjadi latar yang konstan. Di sana, waktu seakan melambat. Setiap jam terasa panjang, setiap perubahan kecil terasa bermakna, seolah hidup sedang dihitung dalam detik-detik yang rapuh. Namun kenyataannya, setiap 1 jam waktu bersama serasa 1 menit saja. Dapatkan waktu mundur ke belakang?
Tubuh orang tua itu perlahan menunjukkan batasnya. Usia yang telah melampaui delapan puluh tahun meninggalkan jejak panjang pada organ-organ yang setia bekerja sepanjang hidup. Jantung mulai kehilangan kekuatannya untuk memompa darah secara efektif. Paru-paru tidak lagi mampu mempertahankan pertukaran oksigen dengan baik. Ginjal melemah, racun dan cairan menumpuk, keseimbangan tubuh terganggu. Penyakit-penyakit kronis yang selama ini dikelola dengan obat dan kontrol rutin perlahan saling memperberat, hingga tubuh harus menghadapi kegagalan fungsi yang datang bersamaan.
Dokter menjelaskan dengan bahasa yang hati-hati, penuh pertimbangan. Ada istilah medis yang terdengar asing, ada penjelasan tentang komplikasi dan risiko. Semua itu masuk ke kepala, tetapi hati hanya menangkap satu pesan: tubuh ini sedang sangat lelah. Kedokteran modern menawarkan berbagai ikhtiar—alat bantu napas untuk paru-paru, obat untuk menstabilkan jantung, dialisis untuk membantu ginjal. Teknologi memungkinkan tubuh bertahan lebih lama dari yang mungkin terjadi di masa lalu. Namun perlahan menjadi jelas bahwa semua ini adalah penopang, bukan pemulih.
Di titik tertentu, saya mulai memahami bahwa yang terjadi bukan lagi perjuangan untuk sembuh, melainkan perjuangan untuk bertahan. Grafik-grafik di layar monitor naik turun seperti ombak kecil yang tak pernah benar-benar tenang. Setiap perbaikan kecil memberi harapan, setiap penurunan membuat dada sesak. Di antara angka-angka itu, saya duduk sebagai anak—tidak sepenuhnya siap menerima, tetapi juga tidak lagi mampu menyangkal.
Di sanalah dilema batin muncul dengan lembut namun menyakitkan. Sampai kapan kita harus mempertahankan? Apakah memperpanjang detak jantung selalu berarti memperpanjang kehidupan? Pertanyaan ini tidak pernah benar-benar terucap, karena rasanya terlalu kejam untuk dilafalkan. Namun ia hadir, diam-diam, di sela-sela doa. Cinta kepada orang tua tidak hanya tentang ingin mereka tetap bersama kita, tetapi juga tentang tidak ingin mereka terus berada dalam penderitaan yang tak lagi mereka pahami. Apakah justru aku membawa penderitaan ini di akhir kehidupan Bapak? Rasa sesal, takut, merasa bersalah dan tanggung jawab seorang anak seperti perang batin yang tak jelas, mana yang perlu dibela.
Kecemasan yang muncul bukan hanya kecemasan kehilangan, tetapi kecemasan eksistensial. Melihat orang tua terbaring lemah, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup ini fana, dan kefanaan itu tidak memilih. Tubuh yang dahulu kuat, yang pernah menggendong, bekerja, dan berjuang demi keluarga, kini sepenuhnya bergantung pada bantuan. Kesadaran ini menampar dengan pelan, tetapi dalam. Sejak dulu aku diajarkan untuk tidak pernah menambah beban hidupnya. Terasa menyakitkan melihatnya begitu lemah.
Di tengah ketidakberdayaan itu, iman menjadi ruang paling sunyi sekaligus paling menenangkan. Dalam keyakinan Islam, ruh adalah milik Allah. Ia dititipkan, bukan dimiliki. Dan ketika waktunya tiba, tidak ada satu kekuatan pun—baik manusia maupun mesin—yang dapat menahannya. Memahami hal ini tidak menghilangkan duka, tetapi memberi kerangka makna. Aku mulai mempertanyakan tentang hidupku dan kehadiranku sendiri di dunia ini. Pertanyaan yang selalu beliau tanyakan setiap memberiku nasehat. Nasehat tapi pertanyaan yang selalu membuatku tak berhenti mencari.
Saya mulai belajar membedakan antara ikhtiar dan kendali. Ikhtiar adalah kewajiban: memastikan perawatan terbaik, bertanya, berdiskusi, mendoakan. Kendali bukan milik kita. Kepasrahan bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berhenti memaksa. Ada titik di mana doa tidak lagi meminta penambahan waktu, tetapi memohon kemudahan. Ada juga kemarahan saat semuanya terkadang tidak sesuai harapan, namun ada kesadaan tentang diri yang dipaksa memaafkan. Biarlah rasa ini berproses demikian.
Ada titik di mana doa tidak lagi meminta penambahan waktu, tetapi memohon kemudahan. Dari “sembuhkanlah” menjadi “jika ini yang terbaik, mudahkanlah.”
Mendampingi orang tua di saat-saat akhir mengubah cara saya memahami cinta. Cinta tidak lagi berbentuk kelekatan, melainkan kehadiran. Duduk di samping ranjang, menggenggam tangan yang semakin dingin, membacakan doa-doa yang dahulu mereka ajarkan sejak kecil. Ada permintaan maaf yang tak selalu terucap, ada rasa terima kasih yang meluap tanpa kata. Saya percaya, meski mata terpejam dan respons melemah, ada sesuatu yang tetap sampai—entah melalui pendengaran yang tersisa, atau melalui rahmat Allah yang Maha Mengetahui isi hati.
Ketika akhirnya kematian datang, ia tidak hadir sebagai ledakan dramatis, melainkan sebagai keheningan yang khusyuk. Mesin dimatikan satu per satu. Ruang menjadi sunyi. Secara medis, fungsi biologis berhenti. Secara batin, dunia seakan melambat. Ada tangis, ada hampa, tetapi juga ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Penderitaan fisik telah usai. Perjuangan telah selesai. “Pak, memang perjuanganmu telah usai, semua hal baik dan terbaik telah kaujalani. Sungguh! kaulah yang terbaik”
Duka setelah kepergian itu tidak langsung reda. Ia datang bergelombang. Kadang dalam bentuk tangis, kadang dalam bentuk rindu yang tiba-tiba, kadang dalam keheningan panjang. Namun perlahan saya belajar bahwa duka bukan musuh yang harus disingkirkan. Ia adalah proses penyembuhan. Duka adalah harga dari cinta yang besar. Ia perlu diberi ruang agar bisa berubah bentuk.
Menulis pengalaman ini adalah bagian dari proses itu. Dengan menuliskannya, saya tidak sedang menghidupkan kembali luka, melainkan memberi nama pada rasa sakit, agar ia tidak tinggal sebagai beban yang tak terucap. Melalui kata-kata, saya belajar melepaskan sedikit demi sedikit—bukan melupakan, tetapi merelakan.
Jika Anda membaca ini dan pernah berada di posisi yang sama, ketahuilah bahwa apa yang Anda rasakan adalah sah. Tidak ada cara berduka yang benar atau salah. Ada yang menangis keras, ada yang diam lama. Ada yang cepat bangkit, ada yang berjalan tertatih. Semua sah. Dan di dalam proses itu, iman bisa menjadi pegangan yang lembut—bukan untuk meniadakan duka, tetapi untuk menemani kita melaluinya.
Melepas kepergian orang tua adalah pelajaran hidup yang tidak pernah kita minta, tetapi akhirnya kita jalani. Ia mengajarkan kita tentang batas, tentang cinta yang dewasa, tentang kepasrahan yang aktif. Dan mungkin, melalui kehilangan itu, kita perlahan menjadi manusia yang lebih lembut—lebih sadar bahwa setiap pertemuan adalah titipan, dan setiap perpisahan adalah jalan pulang. InsyaAllah kita kumpul lagi di alam keabadian dalam ridhoNya. Aamiin.
Bandung, Akhir Januari 2026

