"Acceptance is the only way out of hell."
— Marsha Linehan
Beberapa jam setelah mengikuti workshop tentang Dialectical Behavior Therapy (DBT), saya bertemu senior yang sering menjadi teman berdiskusi, curhat, sekaligus mengunyah berbagai pengalaman hidup. Seperti biasa, obrolan kami melompat ke sana kemari. Dari materi workshop, pengalaman klien, pengalaman pribadi, sampai pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang hidup kita sendiri.
Sambil menunggu pintu kereta terbuka untuk kembali ke kota asal, kubuka laptop dan menuliskan ini sebagai bagian dari berbagi untuk Anda.
Ini bukan resume workshop. Bukan juga tulisan ilmiah. Lebih seperti catatan hasil obrolan dua orang yang sedang mencoba memahami hidup dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Sebuah refleksi saat pillowtalk yang berlanjut hingga selepas sarapan pagi. Dan entah bagaimana, obrolan panjang itu akhirnya mengerucut pada pilihan satu istilah dalam DBT: radical acceptance.
“Bukankah ini mirip dengan ridha?"
Nah, itulah akhir percakapan kami.
***
Dalam hidup, kita hampir selalu ingin mengubah sesuatu.
Mengubah keadaan.
Mengubah pasangan.
Mengubah anak.
Mengubah orang tua.
Mengubah rekan kerja.
Bahkan kadang-kadang, kalau bisa, kita ingin mengubah masa lalu.
Sayangnya, tidak semua hal bisa diubah.
Ada orang yang memang belum ingin berubah.
Ada situasi yang berada di luar kendali kita.
Ada kehilangan yang tidak bisa dibatalkan.
Ada kenyataan yang datang tanpa meminta izin lebih dulu.
Dan sering kali, justru di titik itulah penderitaan kita bertambah.
Bukan karena peristiwanya saja, tetapi karena kita terus berusaha melawan fakta bahwa peristiwa itu sudah terjadi. Mungkin inilah yang dimaksud Linehan ketika mengatakan bahwa penerimaan adalah jalan keluar dari neraka.
Neraka itu tidak selalu berupa peristiwa eksternal.
Sering kali neraka itu ada di dalam pikiran kita sendiri.
Bayangkan seseorang yang baru kehilangan pekerjaan.
Ada dua lapisan pengalaman.
Lapisan pertama adalah fakta:
"Saya kehilangan pekerjaan."
Lapisan kedua adalah cerita yang dibuat pikiran:
"Saya gagal."
"Hidup saya hancur."
"Saya tidak berharga."
"Semuanya sudah berakhir."
Lapisan kedua inilah yang sering memperbesar penderitaan.
Radical acceptance bukan berarti menyerah. Bukan pula menganggap semua hal baik-baik saja.
Radical acceptance adalah mengakui kenyataan sebagaimana adanya.
Sederhana, tetapi tidak mudah.
Saya menyakini, seperti saya, Anda pernah kecewa karena seseorang memperlakukan kita dengan tidak adil.
Kita boleh sedih.
Boleh marah.
Boleh kecewa.
Semua emosi itu wajar.
Tetapi setelah itu ada pertanyaan lain:
Apakah kenyataan itu sedang terjadi?
Kalau jawabannya ya, maka langkah berikutnya adalah menerima bahwa itulah fakta yang ada saat ini. Terimalah.
Bukan menyukainya.
Bukan membenarkannya.
Hanya mengakuinya.
Karena sering kali energi kita habis bukan untuk menghadapi masalah, tetapi untuk menolak keberadaan masalah itu sendiri.
Syukurlah itu telah berlalu, tetapi kita tetap harus mengakuinya pernah ada, tidak perlu mengingatnya ataupun melupakannya. Ya terima saja, biarkan saja. ya.. hidup memang seperti itu, sebuah dialektika.
Ada satu hal yang menarik dari Dialektika Behaviour Therapy. Terapi ini sebenarnya sangat berorientasi pada perilaku dan keterampilan hidup. Saya membayangkannya sebagai latihan menjalani hidup yang lebih sehat.
Karena itu, radical acceptance bukan sekadar konsep yang dipahami di kepala.
Ia adalah keterampilan yang perlu dilatih.
Berulang-ulang.
Setiap hari.
Sama seperti kita melatih kesabaran, melatih fokus, atau melatih kebiasaan hidup sehat.
Mungkin karena itulah para terapis juga dituntut untuk terus belajar menerapkannya dalam kehidupan pribadi. Sulit rasanya mengajarkan pengelolaan emosi jika kita sendiri terus-menerus kalah oleh emosi kita. Sulit mengajak orang hadir penuh dalam kesadaran (mindfulness) jika kita sendiri selalu terburu-buru melawan kenyataan. Selalu rempong. “Ya kan Bestie?”
Semakin bertambah usia, saya merasa hidup lebih banyak mengajarkan penerimaan daripada penguasaan.
Dulu saya berpikir kebahagiaan datang ketika semua hal berjalan sesuai rencana.
Sekarang saya mulai memahami bahwa ketenangan justru sering hadir ketika kita berhenti memaksa hidup mengikuti rencana kita. Sumeleh kata kawan dari sisi timur, saya diberitahu bahwa sikap hidup ini banyak diterapkan oleh para tetua, para sesepuh. Apakah kita perlu menunggu hingga tua?
Mungkin saat lebih muda, kita cenderung lebih keras kepala. Sekarang baru menyadari ada kalanya usaha terbaik tetap tidak menghasilkan apa yang kita inginkan. Ada kalanya doa terbaik belum dijawab seperti yang kita harapkan. Ada kalanya kita sudah memberikan yang terbaik kepada seseorang, tetapi tetap tidak mendapatkan balasan yang sama. Dan mungkin memang tidak semua cerita ditulis untuk mengikuti keinginan kita. Terima saja!
Radical acceptance mengajarkan kita menerima kenyataan.
Sementara dalam tradisi spiritual, kita mengenal sikap ridha.
Keduanya mengajak kita untuk tidak terus-menerus bertengkar dengan takdir kehidupan.
Kita tetap berikhtiar.
Tetap berusaha.
Tetap memperbaiki diri.
Tetapi setelah semua yang mampu dilakukan selesai, ada ruang untuk berkata,
"Baiklah, saat ini memang beginilah adanya."
Bukan dengan putus asa.
Melainkan dengan lapang dada.
“Ah ini relate banget dengan apa yang selalu kita hadapi setiap hari, Bestie”
Bahwa tidak semua pintu harus dibuka paksa.
Tidak semua orang harus memahami kita.
Tidak semua kehilangan harus segera menemukan maknanya.
Kadang-kadang yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti melawan kenyataan untuk kemudian menarik napas, lalu menerima bahwa hidup memang sedang berjalan seperti ini.
Dan anehnya, justru ketika kita berhenti berperang dengan kenyataan, hati mulai menemukan ruang untuk tenang.
Sekali lagi, benar kata Linehan.
Kadang-kadang, jalan keluar dari "neraka" bukanlah mengubah keadaan.
Melainkan menerima kenyataan bahwa keadaan itu memang sedang terjadi, lalu tetap melangkah dengan sebaik-baiknya.
“Mengapa kita tidak belajar lebih keras, agar sampai pada maqom Ridho saja?”
Gubeng, 1 Juni 2026
Merdekaa!

