Ruang Tunggu sebelum Menikah
05.24Saya duduk di kursi tempat ayahku menghabiskan 6 tahun terakhirnya menyuap nasi diselingi batuk dan tersedak yang menyakitkan. Kuketik tulisan ini diatas meja tempat makanannya sering tumpah karena koordinasi tangannya mulai goyah. Setelah ayah meninggal, rumah kecil itu kami kosongkan dan kemarin malam meja dan kursi ini dikirim ke rumahku, sengaja sebagai kenang-kenangan, karena itu saya kangen lagi ayah. Hiks.. sebentar!
Mari lanjut ngobrol di ruang tunggu, ruang yang hening hanya kita dan ayah.
****
Tepat tiga hari sebelum saya menikah, gigi saya bengkak.
Sore itu ayah dengan senang hati mengantarkan saya ke dokter. Hanya ada satu dokter gigi yang buka praktik di akhir pekan. Kami duduk di ruang tunggu yang sepi, dengan aroma obat dan suara kipas angin tua yang berderit pelan. Pipiku berdenyut, campuran antara nyeri fisik dan ketegangan menjelang hari besar. Ayah melihat kegalauanku, mengajakku keluar ruangan dan berdiri di pinggir teras ruang praktek dan menatap jalanan yang rame jelang magrib.
Tak disangka, momen bengkak gusi itu justru menjadi ruang deep talk yang tak pernah kami rencanakan.
Ayah tidak memberi nasihat panjang. Ia tidak berkata, “Nanti kamu harus begini… harus begitu…” Ia hanya bercerita. Tentang pernikahannya yang tidak mudah. Tentang masa-masa ia merasa gagal. Tentang bagaimana ia sempat membangun harapan yang terlalu tinggi, asumsi-asumsi yang keliru, dan bagaimana ia belajar—pelan-pelan—memperbaikinya.
Saya hanya mendengarkan.
Tanpa saya sadari, momen itu kelak menjadi jangkar. Ketika saya menghadapi masalah dalam pernikahan, ketika konflik terasa melelahkan, ketika ego dan ekspektasi saling berbenturan—saya kembali pada ruang tunggu itu. Pada suara ayah yang tidak menggurui, tetapi jujur. Pada pengakuan bahwa pernikahan bukan dongeng, melainkan perjalanan bertumbuh.
Saya tahu, bahwa Ayah percaya padaku, dia tak pernah tanya seperti apa laki-laki pilihanku, ia hanya sempat meminta jawaban apakah aku memang sudah siap. Sebuah kepercayaan dan komitmen memberi tonggak awal bagi langkahku.
Saya tahu ayah saya tidak sempurna. Ia keras kepala. Ia menyimpan masalah sendiri. Ia jarang menunjukkan kesedihan. Ia tidak selalu pandai mengekspresikan cinta.
Tetapi saya selalu merindukannya.
Saya menikmati duduk di sampingnya. Bahkan ketika nasihatnya terasa berulang dan membosankan. Bahkan ketika saya ingin membantah tetapi memilih diam bahkan tertidur, ditengah-tengah obrolan yang diulang seperti kaset rusak. Hal yang dulu membuatku kesal dan memilih tutup mata dan pura-pura merebahkan kepala ke bahunya.
Ternyata, itu momen quality time bersama ayah yang kurindukan.
Ayah adalah orang yang memendam penderitaannya. Tanpa ia sadari, saya sedikit banyak tahu itu. Saya belajar membaca ekspresi wajahnya. Tetapi kita tak biasa membicarakannya secara terbuka. Kelak hal itu sangat menyakitkan. Bersama pemahaman yang baru, saya belajar menerima dan memaafkan.
Saya juga belajar tentang kehangatan, dan tentang jarak.
Bertahun-tahun kemudian, saya mulai memahami sesuatu. Ketika profesi dan pendidikan menggiring saya belajar banyak hal tentang keluarga, konflik pasangan dan isu yang menyertainya, saya makin bersyukur bahwa saya punya banyak pengalaman yang nyata dalam keluarga. Ya, itu membuatku mudah memahami kasus dan membantu klien di ruang praktik.
Banyak orang memasuki pernikahan dengan membawa cerita tentang ayahnya. Ada yang membawa kehangatan. Ada yang membawa luka. Ada yang membawa kekosongan. Ada yang sangat membenci ayahnya dan adapula yang mencarinya pada figure pasangan yang ternyata sama-sama mengecewakan.
Tidak semua orang punya ruang tunggu seperti saya. Tetapi saya sungguh berharap Anda memiliki dan mencarinya segera. Sebab..
Sebagian orang tumbuh tanpa ayah yang hadir secara fisik. Sebagian lagi tumbuh dengan ayah yang ada di rumah, tetapi tidak benar-benar hadir secara emosional. Ada ayah yang bekerja tanpa henti, ada yang tenggelam dalam masalahnya sendiri, ada yang keras dan sulit disentuh, ada yang diam seperti tembok.
Istilahnya sering disebut fatherless.
Fatherless bukan sekadar “tidak punya ayah”. Ia adalah pengalaman batin tentang kehilangan fungsi ayah:
fungsi rasa aman,
fungsi pengakuan,
fungsi teladan relasi,
fungsi validasi.
Dan sering kali, dampaknya baru terasa ketika seseorang hendak menikah, atau mungkin saat sudah menikah, saat menemukan konflik dan kehilangan kompas kemana pernikahannya diarahkan.
Jika Anda sedang berada di fase dewasa awal—usia dua puluhan atau tiga puluhan—dan sedang bersiap menikah, mungkin Anda pernah merasakan ini:
Ada kegembiraan, tetapi juga kecemasan yang sulit dijelaskan.
Ada keinginan berkomitmen, tetapi juga dorongan untuk mundur.
Ada cinta, tetapi juga ketakutan akan gagal.
Bagi yang sudah menikah, mungkin kadang kita menyalahkan pasangan. Kadang kita menyalahkan diri sendiri. Padahal mungkin, ada bagian kecil dalam diri yang belum selesai berdamai dengan pengalaman bersama ayah.
Ayah adalah figur pertama yang—secara simbolik—mewakili dunia luar. Ia adalah sosok yang mengenalkan anak pada batas, struktur, dan tanggung jawab. Dari ayah, anak belajar: bagaimana laki-laki bersikap? bagaimana suami memperlakukan istri? bagaimana konflik diselesaikan? bagaimana kegagalan dihadapi?
Ketika ayah hadir secara hangat, anak menyerap pesan:
“Relasi mungkin sulit, tetapi bisa diupayakan.”
“Konflik tidak selalu berarti perpisahan.”
“Kamu tidak sendirian.”
Namun ketika ayah absen—baik secara fisik maupun emosional—anak bisa menyerap pesan yang berbeda:
“Kedekatan itu berisiko.”
“Lebih aman mengandalkan diri sendiri.”
“Komitmen bisa berakhir menyakitkan.”
Pesan-pesan ini tidak selalu sadar. Ia tersimpan di tubuh. Di respons emosi. Di cara kita bereaksi saat pasangan terlambat membalas pesan. Di cara kita panik saat merasa diabaikan. Di cara kita menutup diri ketika konflik muncul.
Saya beruntung memiliki ayah yang—meski tidak sempurna—tetap hadir. Tetapi saya juga menyadari: ada bagian dari diri saya yang belajar memendam. Belajar tidak membicarakan hal-hal yang terlalu sensitif. Belajar mengelola emosi sendiri. Di kursi dan meja ini, baru mulai kuulang kembali dialog antar dimensi dengan ayah. Terima kasih telah menjadi ayah yang hebat.
Bagaimana dengan Anda?
Sumber foto : membantu saya menjadi lebih kuat - dad and me potret stok, foto, & gambar bebas royalti

0 comments