Jalan Sunyi Menuju Inner Peace ; Belajar Memaafkan dari Po (Kungfu Panda 3)

05.32


 

 

Sebagai Psikoterapis kita tak pernah menduga proses pemulihan klien, seberapa cepat hal itu dapat terjadi. Jika mengukur proses dan  prosedur terapi, kita akan menghitung tahapan  yang perlu dilewati setiap sesi. Sebagai contoh, sesi CBT singkat secara teoritis, tidak kurang dari 40 sesi. 

 

Melalui proses personal yang hening mereka sendiri, saya dapat menggambarkan dinamika yang tersembunyi sebagai cermin bagi para pembaca untuk membantu meneropong ke dalam diri masing-masing.

 

Mungkin kisah ini juga relevan bagi  seseorang (anak) yang merasa menyimpan luka batin atau orang tua yang merasa memiliki utang pengasuhan. Mari kita belajar dari  kisah Po pada film kungku panda 3 dan akan saya jelaskan melalui teori sederhana dalam ilmu psikologi yang relevan.

 

***

Ada luka yang tidak selalu tampak, tetapi diam-diam membentuk cara seseorang melihat diri sendiri: luka karena (merasa) ditolak oleh keluarga. Luka seperti ini sering tidak dramatis, tidak berisik, tetapi menetap lama. Ia ikut berbicara dalam rasa tidak percaya diri, dalam kebutuhan kuat untuk diterima, bahkan dalam cara kita mencintai. Luka masa kecil yang tiba-tiba menyakitkan di usia jelang dewasa saat konteksnya hadir kembali. Luka yang hanya sembuh jika mampu memaafkan. 

 

Menariknya, perjalanan pemaafan  bukan tentang orang lain. Ia adalah perjalanan pulang ke diri sendiri.

 

Dalam peta kesadaran dari David R. Hawkins, pemaafan adalah pergeseran energi dari emosi berat menuju emosi yang lebih ringan, dari frekuensi rendah naik ke frekuensi tinggi. Dari marah, takut, dan duka—menuju penerimaan, cinta, lalu damai. Ini bukan lompatan instan, tetapi proses yang akan dilalui bertahap dan manusiawi, seringkali memerlukan waktu panjang dan sunyi. Tetapi pada kasus dimana kisah ini saya ceritakan, klien memperlihatkan lompatan pemaafan dalam 6 sesi terapi. Seorang anak yang merasa telah dicampakkan oleh ayah yang pergi saat ia masih kecil dan selalu ( merasa) ditolak dan tidak dicintai oleh ibu yang mengasuhnya sebagai single parent.

 

Ketika luka keluarga membentuk identitas

Bayangkan anak yang tumbuh dengan pertanyaan diam: Mengapa aku tidak cukup? Mengapa aku yang harus menanggung derita dari konflik mereka, mengapa aku jadi korban?

Perasaan ini jarang diucapkan keras-keras, tetapi terasa dalam:

  • kebutuhan ingin membuktikan diri,
  • ketakutan ditinggalkan,
  • rasa ingin selalu disukai sekaligus rasa curiga pada kedekatan.

 

Juga muncul dalam bentuk emosi marah, benci sekaligus sedih yang amat dalam, perasaan tak berharga dan sikap curiga.

 

Secara psikologis, inilah fase luka relasional. Seringkali penyebab lukanya sendiri sudah tidak disadari, hanya tersibak saat konteks kembali hadir. Perlu keberanian untuk menyusuri kembali dan menerima bahwa peristiwa itu nyata dan sekaligus bersedia merasakan kembali moment itu untuk dilepaskan selamanya. Walau akan terasa menyakitkan, sebuah paradoksnya, keberanian untuk mengalami dan menerima rasa sakitnya menjadi awal dari pemulihan, 

 

Teori pemaafan dari psikolog Robert Enright menjelaskan bahwa sebelum memaafkan, seseorang perlu melewati tahap uncovering—mengakui luka secara jujur. Menemukan dari mana asal muasal luka  tersebut. Tanpa tahap ini, pemaafan hanya menjadi kata-kata kosong.

 

Dan di sinilah kisah Po terasa begitu dekat. Po menemukan  momen yang membingungkan dan menyakitkan saat ingatannya kembali pada luka itu. Dalam Kung Fu Panda 3, Po mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Ketika akhirnya bertemu ayah kandungnya setelah bertahun-tahun hidup dengan ayah angkatnya, Po menelusuri kembali jejak kisah hidup dan akar luka batinnya. Di permukaan, ini tampak sebagai momen cerita bahagia. Tetapi secara emosional, ini pertemuan dengan luka lama.

 

Bayangkan kebingungan batinnya:

  • Ada rasa bahagia menemukan asal-usul.
  • Ada rasa sedih karena pernah ditinggalkan.
  • Ada rasa takut kehilangan lagi.

Inilah campuran emosi yang sering dialami banyak orang dalam relasi keluarga. 

 

Pada klien saya, terasa kemarahan semakin nyata dan mendapatkan alasan yang lebih kuat, sekaligus keinginan untuk diterima dan dicintai sebagai anak.  Ada konflik emosi yang kuat antara menerima atau mengabaikan kehadiran ayah/ibu. Bahkan  juga secara psikologis, muncul kebencian dan kecurigaan
seiring menyadari betapa toxicnya relasi yang terbentuk.

 

Menurut teori Enright, setelah fase mengakui luka, seseorang memasuki fase decision—memilih untuk memaafkan. Keberanian untuk memilih tidaklah mudah. Bukan memilih agar kejadiannya berubah, atau ingatannya dihapuskan, tetapi  karena seperti yang dicontohkan dalam kisah Po, ia  menerimanya, memilih  berhenti membawa beban emosi itu. Menerima secara objektif pengalaman hidupnya dan menerima rasa sakitnya. 

 

Po tidak pernah menuntut penjelasan panjang. Ia tidak meminta masa lalu diperbaiki. Ia hanya menerima kenyataan dalam framework yang berubah, sudut pandang yang lebih objektif terkadang bahkan lebih bijaksana dan penuh kepasrahan pada takdir dan cinta yang baru tumbuh;  bahwa ibunya pernah melakukan yang ia anggap terbaik saat itu.

Di titik ini, energi emosional mulai berubah. Mungkin ada perasaan kecewa, tapi sekarang menjadi memahami, mungkin awalnya terasa membingungkan tapi kini penerimaan. 

 

Pemaafan bukan berarti luka hilang. Ia adalah perubahan cara melihat luka.

Dalam proses reflektif, seorang klien yang memutuskan untuk memaafkan masa lalunya, biasanya memiliki dialog batin seperti ini:

 

Awalnya:
“Mereka menyakitiku. Orang tuaku tidak bertanggung jawab, mereka menghianatiku, mereka telah mengabaikanku. “

 

Lalu berubah menjadi:
“ Orang tuaku hanya berusaha, mereka tidak mengerti, mereka mungkin memiliki masalah juga, Mereka juga manusia. Kini aku mengerti apa yang terjadi, aku kasian pada mereka, aku menerima mereka dan  aku ingin memaafkan perbuatan mereka”

 

Perubahan kecil ini sangat besar dampaknya. Dalam model Enright, ini disebut fase work—muncul empati terhadap orang yang pernah melukai. Bukan karena perbuatannya benar, tetapi karena kita mulai melihat keterbatasan manusia. Konteksnya juga berubah, saat kecil memang itu menjadi luka batin, tapi ketika dewasa kejadian itu hanyalah fase dalam kehidupan masa lalu. 

 

Tradisi Islam menempatkan pemaafan sebagai tindakan kemuliaan hati. Ada pesan lembut bahwa memaafkan bukan melemahkan, melainkan membebaskan. Seolah hati diberi izin untuk berhenti memikul masa lalu. Dan di titik ini, frekuensi kesadaran menurut Hawkins mulai naik menuju cinta.

 

Momen ketika hati terasa lapang

Fase terakhir dalam teori Enright disebut deepening. Setelah memaafkan, seseorang sering merasakan sesuatu yang tak terduga: kelegaan.

Bukan euforia besar. Lebih seperti ruang napas yang tiba-tiba luas.

 

Pada klien saya, ia mengalami seperti Po; tetap memiliki masa lalu yang sama. Ia tetap anak yang pernah terpisah dari orang tuanya. Namun energi batinnya berubah. Ia tidak lagi mencari identitas dari luka, tidak lagi mempertanyakan atau mencari pembenaran atas kekecewaannya, tetapi ia mulai memilih  penerimaan. Menerima kenyataan dalam hatinya bukan dari rasionalisasi atau sikap dogmatis yang dipaksakan. 

 

Inner peace yang ia rasakan bukan karena hidupnya sempurna. Melainkan karena ia tidak lagi melawan cerita hidupnya.

 

Pemaafan sebagai perjalanan pulang

Mungkin inilah bagian paling menyentuh dari proses memaafkan: kita menyadari bahwa membawa luka terus-menerus tidak membuat masa lalu berubah, hanya membuat masa kini terasa berat. Menyadari sejak munculnya keberanian untuk menerima realitas, sikap mental berubah dari apati menuju empati.

 

Ketika pemaafan terjadi, sesuatu yang sederhana muncul:  sebuah ruang yang lapang.

Ruang untuk bernapas.
Ruang untuk mencintai.
Ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa bayang-bayang penolakan yang terjadi di masa lalu.

 

Dan perlahan, seperti Po, seseorang bisa tetap membawa cerita masa lalunya—tanpa hidup di dalamnya.

 

Sebagai psikoterapis, lagi-lagi saya belajar dari klien tentang dahsyatnya memaafkan, tentang perubahan yang terjadi karena keberanian untuk memilih; melampaui proses sebuah terapi itu sendiri. 

 

 

 

#Untuk yang telah memaafkan dan memilih hidup dalam damai; 

Bunga teratai hanya mekar dari lumpur

Photo by Peggy Sue Zinn on Unsplash

You Might Also Like

0 comments

Subscribe